Loading...

Hidup Tak Boleh Sia-sia. Dan Membandingkan Diri Dengan Orang Lain Bisa Jadi Hal yang Paling Percuma.

Hidup Tak Boleh Sia-sia. Dan Membandingkan Diri Dengan Orang Lain Bisa Jadi Hal yang Paling Percuma.



Rasa insecure atau tak percaya diri seringkali muncul seenaknya. Kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain tanpa alasan yang benar-benar bisa diterima. Walau sebuah perbandingan kadang dapat menjadi motivasi, jika tak tepat dilakukan dapat membuat kita rendah diri. Terlalu lama melihat orang lain sehingga kita lupa betapa berharganya diri kita. Betapa unik kemampuan kita.
Meskipun kadang membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu perlu, saat ia sudah sampai pada taraf ini, berhentilah membandingkan dirimu!

Membandingkan diri sendiri adalah bijak jika membuatmu termotivasi. Namun fatal jika kamu justru menjadi tak percaya diri

Comparison is the thief of joy
Comparison is the thief of joy
Comparison is the thief of joy.
– Mark Twain
Kadang membandingkan diri sendiri memang memotivasi. Namun tidak ketika itu membuat kita lupa pada kemampuan unik yang kita sendiri miliki. Biasanya, kita menjadi tak percaya diri karena “mendongak” — alias melihat orang lain yang sudah sukses di atas sana — terlalu lama. Tak hanya leher yang pegal, kita pun menjadi lupa bahwa orang-orang yang sudah sukses itu dulu pernah menjadi seperti (atau bahkan lebih buruk dari) kita. Kita masih ada di bawah dan tak sejajar dengan mereka bukan karena kita tak bisa. Namun karena memang belum waktunya.


Membandingkan diri boleh-boleh saja jika itu membuatmu bersyukur. Namun jangan sampai melihat orang lain susah jadi satu-satunya obat bahagia yang manjur

Mampu menertawai diri sendiri
Jangan sampai kita bahagia melihat orang lain susah via youqueen.com
Walau tak banyak disadari, membandingkan diri dengan orang lain juga bisa membuat kita menjadi culas. Maksudnya, kita hanya bisa merasa bahagia dengan melihat keadaan orang lain yang lebih buruk dari kita. Berbahagia di atas penderitaan orang merupakan salah satu gejala bahwa perbandingan diri yang kita lakukan sudah ada dalam level mengkhawatirkan. Ketika perilaku seperti ini membuatmu hanya bisa bahagia ketika orang lain susah, sebaiknya segera hentikan kebiasaan ini.


Dan percuma saja membandingkan sisi luar-dalam kita dengan sisi luar orang lain yang memang selalu terlihat bahagia

tanpa ada orang yang bisa diajak berbagi, tentulah hidupmu terasa kurang berarti
Orang lain bukan tolok ukur yang tepatitmus test via favim.com
Mari kita sadari realita ini. Apa yang orang lain tunjukkan pada lingkungan sekitarnya, belum tentu adalah cerminan diri mereka yang sebenarnya.
Pencitraan itu penting. Ketika seseorang menanyakan bagaimana kabar kita, jarang sekali ‘kan kita menjawabnya dengan “Kabarku buruk, rasanya aku nggak bisa terus-terusan begini dan rasanya aku makin gila”? Kita pasti akan menjawab, “Baik-baik aja, hehe…” walau hati sebenarnya sedang tidak enak-enaknya.
Nah.
Sebuah studi menyatakan bahwa orang-orang jarang sekali mengungkap perasaan negatif mereka yang sebenarnya di hadapan umum. Sebaliknya, perasaan positiflah yang lebih mudah mereka tunjukkan. Jadi suatu saat jika kamu menemukan seseorang yang kamu rasa lebih bahagia dari dirimu, pikirkanlah bahwa kamu tidak mengetahui kehidupan pribadinya. Alasan kenapa kita sering merasa insecure adalah karena kita membandingkan ‘kehidupan di balik layar’ yang kita jalani dengan ‘kehidupan publik’ orang lain.


Toh, yang harus kamu lakukan untuk meraih kesuksesan bukanlah membandingkan diri. Melainkan berjuang lebih keras demi mencapai target-target pribadi

editor-working
Berjuanglah lagi, dan lagi
Selalu memikirkan betapa orang lain begitu mengagumkan, memiliki banyak teman, dan lebih sukses daripada kamu itu adalah hal yang sia-sia jika itu membuatmu tak menghargai diri. Jika kamu ingin memiliki kehidupan yang membahagiakan, mulailah untuk mendedikasikan waktu dan energimu untuk hal-hal yang memang berarti.
Daripada bertanya “Kenapa sih hidupnya selalu lebih asyik daripada hidupku?” Mulailah menanyakan, “Sebenarnya, apakah hal yang paling penting buatku?” Apakah posisi manajer bank yang dimiliki temanku ini benar-benar sesuatu yang aku mau dalam hidup? Bukankah aku sarjana Hukum yang sedang berjuang menolong orang banyak lewat apa yang kulakukan ini? Gunakan jawaban-jawaban itu untuk menjadi tolok ukur kesuksesanmu.

Semoga membandingkan diri tak menjadi satu-satunya caramu mengukur kemampuan sendiri. Daripada terus melihat orang lain, cobalah untuk fokus pada dirimu — kemampuan unikmu dan apa yng sebenarnya kamu mau. Jadi jika suatu saat kamu tergoda untuk membandingkan dirimu dengan orang lain yang “lebih bahagia”, ingatkan dirimu bahwa tindakan ini nyaris sama sekali tidak berguna. Sehingga kamu bisa dengan mudah memusatkan perhatianmu pada tujuan-tujuan penting dalam hidupmu dan tahu apa saja yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Semoga berhasil!
Sukses 1066965390027074272

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item